Threesome Bersama Istri Binal

  • Akhirnya saya selesaikan juga tugas dinas saya selama empat bulan penuh di luar negeri. Saya pulang membawa setumpuk laporan hasil kerja yang nantinya saya serahkan pada bos. Beruntung tadi malam saya masih sempat jalan jalan di pusat kota dan tak lupa mengunjungi sex shop terbesar disana seperti yang dipromosikan teman-teman. Saya membeli beberapa sextoys dan puluhan dvd bokep sebagai cenderamata untuk istri tercinta dan beberapa kolega. Harganya relatif lebih murah dibanding beli di dalam negeri.

    Pukul enam pagi waktu setempat saya terbang kembali ke negeri tercinta. Setelah transit dibeberapa bandara akhirnya jam 5 sore saya mendarat dibandara A Yani. Setelah saya dapatkan semua barang bawaan saya, saya langsung beranjak keluar. Saya lihat istri saya berdiri di ujung koridor. Mengenakan kaus ketat tanpa lengan yang dipadu blouse mini setengah paha membuat ia terlihat sangat cantik dan menggairahkan. Ada sebatang rokok tergamit di jarinya. Kami berpelukan sejenak melepas setumpuk kerinduan. Lalu saya kecup bibirnya. Setelah itu saya bermaksud mengajaknya pulang.

    “Eh kenalin dulu, ini Rido…” Ujar istri saya menunjuk pada seorang pria muda yang berdiri tepat disampingnya, sembari menghisap dalam-dalam rokoknya.

    “Roy…” katsaya sambil mengulurkan tangan.

    “Rido” balasnya.

    “Jemput siapa nih Do?”

    “Justru gue lagi nunggu jemputan, Bro… Dari tadi gue kontak kantor cabang tapi enggak nyambung terus. Line-nya lagi rusak kali “

    “Dimana sih tujuan elu?”

    Dia menyebut sebuah kantor di jalan Gajah Mada.

    “Kebetulan itu searah sama kami… Mau ikut?” saya menawarkan diri.

    Rido setuju lalu kami berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan selama yang memakan waktu kurang lebih dua puluh menit itu kami saling ngobrol saling mengakrabkan diri. Ia ternyata dari Indonesia Timur. Seorang manager pada sebuah perusahaan pembiayaan yang berpusat dikota saya ini. Meski warna kulitnya hitam keling namun terlihat wajahnya sangat ramah dan bersahabat. Ia tidak ganteng tapi cukup menarik. Rido bilang kalau dua satu tahun sekali ia harus terbang kekantor pusat untuk memberi laporan hasil pekerjaannya dikantor cabang di NTB sana. Saya turunkan dirinya tepat di depan gedung yang ditujunya. Dan sebelum berpisah kami sempat bertukar nomor hape. Kemudian saya meneruskan perjalanan kerumah.

    “Kayaknya sekarang kamu banyak berubah deh Sayang…” Ujarku.

    “Maksudnya?” tanyanya sembari mengerinyitkan dahi.

    Lalu saya sampaikan padanya kalau dulunya istri saya tidak suka mengenakan pakaian yang seksi di tempat umum kecuali di acara pesta. Dulu ia juga bukan pecandu rokok. Dan dulu ia kurang welcome dengan orang asing tapi tadi kayaknya ia begitu cepat akrab dengan Rido seperti sudah kenal bertahun tahun saja.

    “Aahh… Kamu terlalu sensi aja… Tapi boleh kan kalau aku sedikit merubah gaya?” tanyanya sembari menghembuskan asap rokoknya yang segera terhisap keluar lewat celah jendela mobil yang sedikit dibuka.

    “Iya enggak apa apa toh, Say! Saya malah tambah suka kok! Kamu jadi kelihatan makin seksi dan menggemaskan aja sekarang! Oh ya… Ayo cerita dong petualanganmu selama kutinggal!”

    Kemudian dengan polos Hana menceritakan semuanya. Bagaimana ia dikerjai disebuah ruang karaoke, lalu pengalaman bercinta dengan Justin, lalu pengalaman ber-threesome bersama Justin dan istrinya. Dan beberapa petualangan lain. Saat menyimak pengalaman istri saya bukannya saya menjadi cemburu malahan saya menjadi begitu horny. Sudah tidak waraskah diri saya???.

    Begitu sampai dirumah, saya menarik masuk Hana ke dalam kamar. Saat itu saya benar-benar sedang kasmaran. Saya dekap dia, saya ciumi bibirnya, lehernya dan sepanjang lekuk tubuhnya. Satu persatu saya pereteli pakaian ditubuhnya hingga ia telanjang bulat. Saya balikkan tubuhnya, saya lingkarkan tangan pada pinggangnya lalu saya ciumi punggungnya. Ia meraih tangan saya untuk mengajak saya berbaring di ranjang. Saya usap-usap pipinya, dagunya, lalu saya raba lekuk payudaranya yang sangat montok dan kencang.

    Hana meraih baju saya kemudian melepasnya. Ia mulai menciumi dada saya yang sedikit ditumbuhi bulu. Kami bergulingan diatas ranjang, saling menyentuh, menjilati, dan menghisap. Saya berguling diatas tubuhnya lalu menyodorkan muka tepat diselangkangannya. Saya amati vaginanya sudah basah memerah dan menganga lebar penuh hasrat birahi. Saya julurkan lidah kedalam, menggerakannya berkeliling, dan menggetarkan dinding-dinding vaginanya. Saat saya gelitikkan lidah saya, Hana melengkungkan punggung penuh rasa nikmat dan saya lakukan terus menerus sampai lendir birahinya membanjir keluar.

    Saya tindih tubuhnya sambil melesakkan batang kemaluan yang sudah sangat tegang itu kedalam liang surgawinya. Saya gerakkan pinggul naik turun dengan sangat cepat seperti sedang kesetanan saking kangennya diri saya padanya. Saya terus memompa, makin lama makin cepat. Hana mencapai puncaknya sambil mengangkat pinggulnya keatas. Ia dekap erat erat diri saya seolah-olah sangat takut kehilangan.

    Selanjutnya ia dekatkan mulutnya ke batang kemaluan saya. Ia keluar masukkan dengan sangat gemas. Ia juga menghisapinya dengan rakus. Sebelum saya mencapai klimaks, saya tarik tubuhnya dan menempatkannya diatas saya. Ia mengggoyangkan pantatnya maju mundur seperti sedang menggilas pakaian. Saat itu ia tanpa sadar merendahkan tubuhnya kedepan sehingga saya dapat membenamkan wajah saya kedalam belahan payudaranya dan dengan bebas dapat menghisap putingnya. Istri saya terus bergerak. Saya juga mengehentak-hentakkan pinggul dari bawah. Sangat liarrrrr… sampai tubuh kami bergetar dan bersama-sama memancarkan cairan orgasme.

    Kami beristirahat sebentar saling ngobrol sambil merokok. Saya minta istri saya bercerita lagi tentang petualangan asmaranya dengan pria-pria lain. Ada setidaknya enam orang lelaki yang pernah berkencan dengannya. Wuih! Ternyata istri saya menjadi pecandu seks juga sekarang. Hanya dalam waktu empat bulan saja. Dan kembali saya menjadi sangat terangsang saat mendengarkannya. Penis saya yang semula loyo berangsur mulai menengang dan mengeras.

    Kami saling merapatkan bibir, berpagutan, saling meraba dengan tingkat perangsangan lembut. Saya gelitik payudaranya dan menghisapi putingnya. Saya terus meremas dan merangsang buah dadanya sampai putingnya berdiri mengeras. Lalu beralih pada selangkangannya. Saya lumat dan saya cumbu bagian tubuhnya yang sangat saya rindukan siang malam selama empat bulan. Bulu-bulu kemaluannya yang tumbuh lebat masih terawat dengan baik. Aroma khas vaginanya juga masih menjadi bau yang menyalakan nafsu birahi saya. Liangnya sudah merekah bagai kelopak bunga tampak becek dan sangat licin karena lendir cintanya yang deras mengalir keluar. Saya kitari bibir liang itu beberapa saat sebelum saya gelitiki klitorisnya dengan ujung lidah.

    “Ooooh… Ayolah, sayang!“ ujarnya penuh tuntutan.

    Saya tarik tubuhnya membuatnya merangkak membelakangi saya. Saya benamkan penis saya dari belakang. Zakar saya menepuk-nepuk pantatnya setiap kali saya memompa vaginanya. Saya nikmati denyutan denyutan dinding vaginanya yang membuat tusukan saya bertambah nikmat ribuan kali. Hana terus mendesah. Setiap kali ia mendesah lebih keras saya mendorong penis saya lebih dalam. Saya mengakhiri perjalanan birahinya dengan sebuah desakan kuat dan sedalam dalamnya.

    “Aaaaaaccchhhhh…!” Hana memekik penuh kepuasan.

    Saya tarik tubuhnya ketepi ranjang. Menelentangkannya disana. Lalu saya naikkan kakinya keatas bahu saya. Dalam posisi berdiri saya masuki vaginanya kembali. Hana menggoyangkan pinggulnya secara mendatar setiap kali saya mendorong batang kemaluan saya. Semakin lama goyangannya semakin menghentak-hentak. Liang senggamanya memang luar biasa nikmatnya sehingga saya ingin menikmatinya semalaman. Namun karena sudah sangat terangsang akhirnya kami sama-sama menjerit penuh ketegangan disertai memancarnya lendir orgasme kami dalam waktu yang hampir bersamaan.

    Dua hari kemudian…
    Siang itu Hana menelpon saat saya sedang menyelesaikan laporan di kantor. Tidak seperti biasanya. Pasti ada hal yang spesial pikirku. Ternyata memang benar adanya.

    “Sayang, tadi Rido kontak ke hapeku. Dia bilang kalau pesawatnya dicancel sampai besok sore… Dia juga bilang lagi kesulitan cari hotel untuk sekedar transit… Kalau …”

    “kita suruh dia nginep dirumah aja gimana, itu kan maksud elu?” potongku.

    “Iya… ya yang… kasihan kan kalau dia bener-bener gak dapet hotel?” jawab istri saya yang tiba-tiba menjadi sangat perhatian.

    “Kasihan dia apa kasihan kamu, Na? Apa kamu pingin nyoba pisang hitam panjang nih?”

    “Engga… engga! Masa Kamu mikirnya gitu sih?... Gimana yang, boleh enggak Rido kita suruh nginep dirumah?” kata istri saya terus membujuk.

    Akhirnya saya menyerah juga.

    “Ya bolehlah kalau kamu emang menyukainya”

    “Kamu memang suami yang luar biasa sayang… Makasih ya… I love you…”

    Lalu telepon diputus. Saat itu jam satu lewat dua puluh menitan. Saya pun sibuk meneruskan pekerjaan saya. Sekitar jam empat mendadak saya pingin nelpon ponsel istri saya sekedar menyapanya. Tapi sedang tidak diaktifkan. Saya coba beberapa kali namun tetap tidak bisa. Lalu saya coba menghubungi kantornya . Kebetulan saya sudah mengenal operator yang bertugas saat itu.

    “Hallo Selly! Hana ada?”

    “Engga tuh Mas Roy. Hari ini doi cuman dating lalu berpamitan mau jenguk famili yang sakit”

    Hah? Family sakit? Apa pula ini??? Aneh…!

    “Apa enggak jalan bareng toh Masss?” Tanya Selly sedikit ragu.

    “Enggak sih Sel, gue lagi sibuk di kantor… Okey gitu dulu Sel, thanks ya” Lalu saya putuskan kontak.

    Sialan! Bener-bener istri saya jadi binal! Pasti ia telah bersama Rido seharian ini. Atau mungkin sejak kemarin.

    “Dasarrrr wanita gatel!” Omelku dalam hati.

    Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat saya terangsang sendiri sehingga saya coba mempercepat pekerjaan saya yang masih setumpuk. Namun baru jam setengah tujuh malam saya bisa merampungkannya. Secepat kilat saya pacu mobil saya menuju rumah. Dibenak saya hanya ada keinginan untuk melakukan threesome dengan istri saya dan Rido. Hari sudah mulai gelap saat saya sampai. Teras rumah saya sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang dinyalakan. Hana keluar menyambut saya. Ia menyapa saya dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum saya tarik masuk tubuhnya. Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang dihiasi renda renda dibagian dadanya. Putting susunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah saya tebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh didahinya sebagaimana seseorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.

    “Habis kerjaaa keras nih!” sindirku.

    “Ah, kamu bisa aja” sahutnya dengan pipi yang tersipu.

    “Rido dimana, Na?”

    “Kayaknya lagi mandi…”

    Saya tarik tangannya menuju sofa yang ada diruangan tengah. Mengajaknya berciuman sebentar sebelum saya lanjutkan bertanya,

    “Lelaki itu hebat, Na?”.

    Ia tidak menjawab hanya membeliakkan mata kearah saya.

    “Berapa kali kamu klimaks? Enam? delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya.

    Kembali saya lumat bibirnya dan mulai menggerayangi bagian dadanya. Hana menolak dengan halus karena ia ingin saya mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Saya setuju.

    Selesai mandi saya keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja. Rido dan istri saya sudah ada di meja makan menunggu saya. Kemudian kami bersantap malam sambil berbincang-bincang mengenai banyak topic. Setelah selesai Hana memunguti piring-piring kotor untuk dibawanya kedapur sementara saya dan Rido melangkah ke ruang tengah. Saya duduk di sofa panjang sedang ia duduk disofa single diseberang saya.

    “Gimana istriku, Do?” tanya saya dengan nada sengaja saya pelankan agar tidak terdengar oleh Hana yang masih sibuk mencuci piring.

    “Luar biasa, Roy! Elu bener-bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia.“

    “Berapa kali kalian ngelakuinnya?”

    “Mungkin lima atau enam kali, engga ingat… soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat kenyal dan pulen. Belum lagi servisnya yang benar-benar luar biasa. Aku jadi ketagihan berat padanya!”

    “Sialan kalian! Lagi ngomongin gue yaaa!” omel Hana yang mendadak telah beridiri di samping saya. Ia lalu saya tarik duduk disebelah saya.

    “Rido bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna kamu, Say…” Ujarku.

    “Biasa lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan maut”

    “Bukan gitu Na, tapi emang kamu istri yang sangat sempurna” lanjutku seraya menempelkan bibir kebibirnya.

    Istri saya kembali menolak saya dengan halus karena ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton dvd porno yang saya beli tempo hari. Saya kembali setuju. Dan dengan santai kami nikmati adegan-adegan penggugah nafsu itu bertiga. Belum sampai selesai film yang kami tonton ketika saya lihat Hana mulai tidak tenang duduknya. Berkali-kali ia geser-geser dan ubah-ubah posisi kakinya, sepertinya ada sesuatu yang aneh dipangkal pahanya.

    Saya ciumi lehernya sambil merabakan tangan pada tonjolan buah dadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istri saya tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasan saya. Putingnya menjadi semakin mengeras dan semakin menyembul. Dengan sangat gampang saya tarik lepas tali pengikat kimononya kemudian menyibakkan ujung-ujungnya kekanan kekiri. Saya tatap dengan penuh kekaguman kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum saya jilat-jilat serta saya hisapi. Ketika saya selipkan tangan pada pangkal pahanya saya temukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.

    “Uuuhhhh…” Desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.

    Hana meraih kepala saya lalu mengiringnya kearah selakangannya. Saya pun menurut. Sembari bergerak saya ciumi setiap bagian tubuhnya yang saya lewati. Perutnya, pusarnya, bulu-bulu kemaluannya yang lebat, dan bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Saya telusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian saya julurkan lidah menggelitik kelentitnya yang telah sangat menonjol. Istri saya menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap saya melakukannya.

    Rido bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekar itu terlihat sudah sangat tegang. Mendongak minta jatah. Ia mengajak istri saya berciuman. Tanganya mulai meremas remas buah dada istri saya sementara tangan istri saya telah menggenggam batang kemaluannya. Saya julurkan lidah dan saya benamkan berulang kali pada liang yang tanpa ujung itu. Saya tusuk-tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Hana menjadi semakin keras terdengar.

    Rido bangkit menyodorkan kemaluannya kemulut Hana. Batang sepanjang dua puluhan centi itu disambut istri saya dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istri saya mulai mengulumnya. Saya sibakkan kimono mandi saya dan memelorotkan celana dalam saya. Saya genggam dan saya urut-urut otot sepanjang lima belas centi yang meyembul diantara paha saya sambil menyaksikan istri saya sedang melumat penis hitam Rido yang panjang itu penuh nafsu. Saya menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istri saya. Saya angkat kedua kakinya kemudian saya dorong batang kemaluan saya kedepan membenamkannya dengan penuh perasaan kedalam liang syahwatnya.

    Sambil menikmati setiap gesekan lembut dengan dinding-dinding dalam vaginanya. Inci demi inci. Sekonyong-konyong saya disergap berjuta-juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penis saya lalu menjalar kebatangnya, lalu menyebar keseluruh bagian tubuh saya. Selanjutnya saya coba mengeksplorasi kenikmatan yang lebih besar dengan tak henti-hentinya menggali, menggali, dan menggali liang itu lebih dalam lagi. Sementara itu istri saya masih asyik mengulum black banana yang ada dalam genggaman tangannya.

    Hana terus menerus mengerang nikmat saat tubuhnya bergoyang maju mundur diombang ambingkan gelombang birahi yang saya ciptakan. Kemudian ia mengejan. Seluruh otot ditubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjang pada saat badai orgasme tiba-tiba meledak dan menyambar dirinya!. Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang kemaluan saya yang masih terbenam disana.

    Kami berganti posisi. Saya duduk disofa sedangkan Hana menyodorkan mukanya keselangkangan saya, ia menghisapi dengan lahap batang kemaluan saya yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Giliran Rido yang menyetubuhi istri saya dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan keluar masuk dengan sangat cepat. Terdengar suara “plok! plok! plok!” setiap kali zakar Rido menepuk nepuk pantat istri saya.

    “Ooouughttt… ooochh…” desah istri saya tanpa melepaskan batang kemaluan saya dari mulutnya.

    Dan setiap kali istri saya mendesah lebih keras Rido melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi. Rido tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik diri lalu menelentangkan tubuh istri saya diatas sofa. Ia buka kedua kaki istri saya lalu menaikkannya keatas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menuju ke puncak tertinggi. Istri saya tampak begitu menikmati setiap hujaman kemaluan Rido. Ia menyambut dengan goyangan pinggulnya yang menghentak-hentak. Denyutan nikmat yang diciptakan Hana membuat Rido tambah bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor kuda balap. Terdengar napas keduanya terengah engah saling mengerang dan melenguh penuh nikmat.

    Beberapa menit kemudian istri saya kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat tubuh Rido. Sementara itu Rido masih memompa dengan sangat cepat berusaha secepatnya mencapai klimaks. Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Rido mencabut penisnya kemudian menghampiri wajah istri saya. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan kebibir Hana. Setelah mereda, istri saya kembali menjilati ujung kemaluan Rido sampai bersih.

    Saya sejak tadi hanya bisa berdiri menyaksikan pergulatan keduanya sambil mengurut-urut batang kemaluan saya sendiri. Melihat celah vagina Hana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya membuat saya sangat terangsang dan ingin memasukinya. Selanjutnya saya tancapkan dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa sedikit longgar namun tetap saja mampu memberi rasa nikmat yang luar biasa. Saya lumat liang itu dengan sangat bergairah.

    Hana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya bertambah nikmat ribuan kali. Saya semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang saya lakukan rupanya menyebabkan menyalanya kembali gairah istri saya. Sehingga kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling menggesek dan meraba. Sekian menit kemudian saya percepat gerakan pinggul saya saat terasa desakan sangat kuat diujung penis saya. Istri saya memekik dengan keras ketika ia lebih dahulu sampai di puncak. Nyaris bersamaan saya rasakan ujung penis saya bergetar hebat. Sehingga saya coba menekan pinggul lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluan saya menggelepar-gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah yang sangat banyak diantara himpitan liang vagina Hana. Saking banyaknya hingga meluber keluar dan meleleh diatas sofa.

    Setelah membersihkan diri, kami melanjutkan permainan didalam kamar. Secara bergantian saya dan Rido menggarap vagina Hana. Malam itu belasan kali istri saya mencapai klimaks disertai jeritan panjang penuh kepuasan.

0 comments